Wednesday, 25 February 2009
Dizhalimi atau Mendzhalimikah Saya?
Sudah lama jari ini tidak menuangkan perasaan yang bergejolak, ataupun peristiwa yang memenuhi pikiran. Kali ini saya coba kembali menulis, semoga bisa menjadi terapi bagi diri saya sendiri dan dapat diambil hikmah bagi pembaca sekalian.
Dizhalimi atau menzhalimi? Dua hal yang tidak pernah saya inginkan dalam hidup. Betapa tidak? Keduanya tentu akan mendatangkan ketidak tenangan dalam hidup. Namun itulah yang menjadi pertanyaan saya beberapa bulan belakangan ini. Apakah saya sebagai pihak yang dizhalimi ataukah justru saya yang telah sewenang-wenang menzhalimi orang lain?
Saya memohon kepada Allah untuk senantiasa memberikan petunjukNya, agar saya terjauh dari perbuatan menzhalimi orang lain, dan juga memohon perlindunganNya agar tidak terdzhalimi. Namun seperti halnya rizki yang Allah berikan dengan bermacam cara dan perantara, saya memahami bahwa begitupun cobaan hidup diberikan dalam beraneka rupa dan wujudnya, bermacam jalan dan sebabnya.
Saya rasa, pembacapun akan setuju jika saya mengatakan bahwa akan sangat berat jika kita diuji dengan jalan atau perantaraan orang yang dekat dan kita percayai. Jika ketulusan kita diuji dan dipertanyakan, bahkan dinafikan. Jika perbuatan dan niatan baik justru diputar balikkan dan dihinakan.
Sebisa mungkin saya mempertahankan diri untuk mengatakan kebenaran, meski itu membuat tersakiti dan menyakiti. Setidaknya, saya telah berusaha untuk beramar ma`ruf nahi mungkar, mengajak pada kebaikan dan menjauhi kemungkaran. Akan tetapi, sebuah permasalahan yang sebenarnya sangat sederhana dan dicoba diselesaikan dengan cara yang sederhana pula menurut pandangan kita, belum tentu disikapi secara sederhana pula oleh orang lain apalagi jika dibumbui dengan resep njlimet bin ruwet. Hal itulah yang saya sesalkan, karena pada akhirnya sangat menguras energy, fikiran dan perasaan. Bukankah energy, fikiran dan perasaan kita akan sangat jauh bermanfaat jika digunakan untuk hal yang bermanfaat pula?
Sebuah kisah klimaks tanpa anti klimaks, mungkin. Karena saya pada akhirnya menyerah hanya sampai pada pelurusan masalah, tanpa keinginan untuk bertahan apalagi melanjutkan hingga pihak lain menyadari perannya dalam timbulnya permasalahan. Saya menyerah untuk tidak memperpanjang permasalahan, atau justru menyerah untuk membiarkan permasalahan mengalami stagnasi tanpa tahu kapan akan berakhir? Saya belum tahu jawabannya, tapi mungkin saya menyerah untuk mengalah, karena mengalah bukan berarti kalah.
Diatas semua hal yang mampu saya lakukan hingga batas maksimal yang saya punyai, adalah Allah yang menjadi tempat pengaduan segala rasa sesal dan gundah hati ini. Hanya Dia yang mengerti isi hati manusia. Dalam genggamanNyalah hati manusia, Dialah yang mampu membolak-balikkan hati manusia. Semoga Allah memberikan petunjukNya. Dan akhirnya, hanya doa yang bisa saya panjatkan, sembari berusaha membersihkan hati dari segala penyakit hati yang menggerogoti jiwa akhir-akhir ini. Dizhalimi atau mendzhalimikah saya? Astaghfirullah hal adzim. Read More..
Wednesday, 12 November 2008
Tips Disayang Suami (Maaf Agak Vulgar, M+)
Di saat dia yang seharusnya mendapatkan perhatian penuh saya, atau setidaknya bisa berkonsentrasi dengan dirinya dan exam-nya, justru dia mondar-mandir ke kamar mandi setiap saya muntah, mondar-mandir mengganti kompres di dahi saya sewaktu saya terlelap tidur. Tak lelahnya dia bertanya, “Apa yang adek rasakan?” atau men-support dengan kalimat, “Cepet sembuh ya sayang.” Dengan tubuh yang berbau aneh (campuran minyak tawon, minyak kayu putih plus belum mandi 4 hari) ini, dia tetap erat memeluk dan mencium.
Saya jadi teringat perjalanan saya bersamanya hampir satu setengah tahun ini. Tanpa proses pacaran pun ternyata menghasilkan kualitas hubungan suami istri yang baik. Beberapa teman, bahkan yang menikahnya lebih senior dari kami sering kali menanyakan tips dibalik kebahagiaan ini. Menurut saya, agar suami menyayangi kita dengan tulus maka kita perlu
1. Patuh terhadapnya. Dalam artian, selagi apa yang dia perintahkan, dia pinta, dia inginkan dibenarkan oleh Agama, tidak mendurhakai Allah maka tunaikanlah dengan hati ikhlas.
2. Menjaga kehormatannya. Seorang istri solehah adalah perhiasan terbaik dunia bagi sang suami, maka jadikanlah kita sebaik-baik perhiasan untuk suami saja. Tidak perlu lah berdandan berlebihan, apalagi jika hal itu justru membuat lelaki lain yang bukan mahram kita tertarik pada kita, wah bisa memicu kecemburuan. Cukup kita adalah wanita paling menarik di mata suami, bukan?
3. Jaga hartanya. Atur keuangan keluarga dengan cerdas dan cermat. Tidak perlu menjadi miss belanja yang akan memberatkan suami.
4. Hormati orang tuanya. Seorang anak laki-laki akan tetap menjadi hak ibunya, dimana suami kita mempunyai kewajiban untuk memuliakan ibunya. Dalam hal ini, seorang istri hendaknya mendorong suami untuk semakin mencintai ibunya, menghormati dan memberikan perhatian kepada ibunya, juga keluarganya. Jangan pernah merasa tersaingi jika suami memuliakan ibunya, karena kedudukan kita tidak akan pernah menyamai kemuliaan seorang ibu di hatinya.
5. Belanjakan hartanya di jalan Allah. Mencontoh Khadijah, R.A Seorang istri hendaknya menjadi pendukung nomor satu ketika suami membelanjakan hartanya di jalan Allah.
6. Ikhlas akan kekurangan dan bersyukur atas kelebihan. Seorang manusia, pun kita tak terlepas dari kekurangan, namun juga kita di karunia kelebihan. Ingat-ingatlah kebaikannya, dan banyaklah bersyukur karenanya. Tak ada salahnya memuji kelebihannya ataupun kebaikannya.
7. Cintai dia karena Allah. Mencintai karena Allah adalah cinta tanpa syarat. Setiap yang kita lakukan tak lain karena mencari ridho Allah. Berusaha membuatnya bahagia karena Allah. Menjadi orang pertama yang menenangkannya di saat hatinya susah, dan mengingatkannya untuk banyak bersyukur disaat hatinya penuh kebahagiaan.
8. Diatas itu semua, teruslah berdoa kepada Allah, karena dalam genggamanNya lah hati manusia berada.
Read More..
Monday, 6 October 2008
Bill dan Kejutannya
waktu itu saya sedang sholat dzuhur, dasar sholatnya kurang khusyuk, tetep aja kedengeran waktu mbak ika ketok-ketok pintu seraya mengatakan, "feb, pre, ada tamu, bule". Kalimat putus-putus itupun dengan mudah tertangkap bahwa mbak ika mengantarkan seorang tamu yang mencari kami.
Setelah sholat, bergegas saya menemui Bill yang menunggu di ruang baca bersama suami saya. Buat kami, kedatangan Bill merupakan suatu kejutan yang membahagiakan di ramadhan kali ini. Di saat saya kesepian karena jauh dari orang tua, Bill yang sudah mbah-mbah itu datang membawa sebuah bingkisan sebagai hadiah ulang tahun pernikahan kami 7 Juli lalu.
Di dalam bungkusan berwarna ungu itu terdapat sebuah plate from willinga quarry karya Shirley Clare, with PURE GOLD decoration! Namun yang membuat kami lebih tersentuh adalah sebuah kartu dengan gambar dua ekor harimau beserta isi tulisan di dalamnya.
"Dear Feb and Supre. I know I am 75 days late...
Anyway, as old lions married for 40 years and 75 days we want to wish you two young lions years of adventures together. We certaintly have had our adventures together.
Now, your gift didn`t come from Darwin (waktu itu, beliau berencana merayakan ulang tahun pernikahannya yang tanggalnya sama dengan ulang tahun pernikahan kami, di darwin), as i had doped, but from willunga, about 1 hour`s drive south of adelaide. The dark glaze is from ground slate, which is mined there. Enjoy it, and have a wonderful live. Best wishes always, Bill"
Read More..
Saturday, 6 September 2008
Ku Besar, Ku Tambah Endut
Sebenarnya bukan masalah size yang membuat saya menarik diri, berlama-lama tidak ngeblog. Tapi size itu hanyalah efek samping dari apa yang saya rasakan. Meskipun, yang saya rasakan juga hanyalah sebuah efek samping dari apa yang namanya, anugerah sekaligus amanah.
Setelah mengalami perasaan tidak enak badan dan serba tidak nyaman dan terlambat datang bulan, saya dengan perasaan ngga karuan mencoba men-tes urin di pagi hari dengan tes pack kiriman dari kampung. Dan seperti bulan sebelumnya, saya takut sekali merasa GR dengan telatnya si tamu bulanan itu.
Hati-hati saya membaca hasil tes, namun garis kedua tidak tampak dengan jelas. Singkat cerita, saya dengan diantar suami menjalani tes darah untuk hormon HCG di parkland medical centernya Uni Adelaide. Rasanya saya tidak ingin mengambil hasil dari tes darah itu, takut jika sebenernya saya sudah terlalu berharap dan ternyata hasilnya tidak sesuai harapan. Namun, suami mengingatkan untuk selalu ikhlas atas apa yang Allah pilihkan untuk kami. Dengan bismillah dan tak henti berzikir, saya melangkah masuk ruangan nurse yang membacakan hasil pemeriksaan darah dari layar komputernya.
Alhamdulillah, nurse-nya mengatakan bahwa hasilnya HCG positif, yang artinya saya positif hamil. Namun mungkin saking bahagianya, kami justru bengong, speechless. Sampai nurse-nya mengulangi lagi pernyataan bahwa saya hamil, dan bertanya apakah anak ini kami harapkan atau tidak? Tapi entah kenapa, detik itu kami masih saja bengong dan hanya mengangguk seraya berkata, "yes, offcourse". Nurse-nya mungkin lebih bingung lagi dengan reaksi kami berdua yang jawab offcourse tapi ekspresinya iya-iya ngga-ngga.
Keluar dari Parkland, kami berdua saling meremas jemari, seolah ingin membuktikan bahwa semua ini bukan mimpi.
Read More..
Saturday, 19 July 2008
Apa Enaknya di Oztrali? (Geram....grrrrrr!!!)
WTK:halo mbak, apakabar Adelaide?
Seo:halo jg, baik...Adelaide masih berada pada letak geografis yg sama..belum pindah mbak.
WTK:Ah, mbak seo ini..eh, mo nanya boleh ya..
Seo:Yup (dalam hati saya menunggu pertanyaan sodara WTK ini...karena biasanya pertanyaan-pertanyaan ajaib yg muncul dari ketikan di layar YM)
WTK:caranya biar bisa ke luar negri gmn mbak?
Seo:bikin passport, ngurus visa, beli tiket..
WTK:walah, kalo itu saya mah udah tau mbak,maksudnya, biar bisa ke luar negri itu gmn?
Seo:waduh, kalau nanya spouse student seperti saya, dan anda mau seperti saya berarti anda harus menikah dulu dengan calon student yang mau ke luar negri.
Di pikir-pikir, apa sih enaknya di luar negri? sampe ada sodara WTK yg ngebet pengen seperti saya. Padahal saya sendiri lebih nyaman hidup di negri sendiri. Sewaktu perasaan dan pendapat saya yang seperti ini saya ungkap dalam curhat pada beberapa rekan di tanah air, malah dikomentari begini, "ngga usah buru-buru pulang ke indo, negara lagi gawat. Harga pada naik, demo di mana-mana, korupsi tambah menggila". Rekan yang lain bilang, "puas-puasin di luar negri, kalo perlu menetap aja di sana".
Aduh, sepertinya pepatah rumput tetangga lebih hijau benar berlaku. Buat saya, hidup di oztrali ada enaknya juga, tapi lebih banyak enaknya jika hidup di negri sendiri. Meskipun hampir semua makanan yang ada di indo bisa ditemukan di sini, tapi tetap saja kehangatan sapa keluarga dan para sahabat tidak saya dapatkan di sini. Demikian pula dengan karir dan bisnis. Di indo saya bebas jumpalitan membangun imaginasi saya tentang bisnis pet animal, ataupun memantapkan bisnis oleh-oleh haji ataupun Wedding support yang tidak bisa maksimal saya kelola dari sini. Nyatanya, hidup di luar negri telah mengakibatkan saya kehilangan banyak kesempatan membangun bisnis dan karir saya sebagai dokter hewan. Sampai sekarang saya masih belum berkiprah sebagai dokter hewan dalam peran secara langsung di masyarakat.
Lalu kenapa masih saja orang mupeng dengan status saya yang spouse ini? Bahkan ada student yang ngiri sama posisi spouse. Tak jarang ada yang berkomentar, "hidup di oztrali sih enak, apalagi kalau cuma jadi spouse". Welah, lagi-lagi rumput tetangga lebih hijau nih. Dikiranya jadi spouse enak, karena tinggal makan-minum-tidur ga ada kerjaan, ga perlu mikirin ujian. Tapi bukankah justru ujian hidup itu lebih berat dari ujian di kampus? (seingat saya yang juga pernah kuliah profesi yang konon setara S2). Bayangkan bagaimana para spouse berjuang mendampingi pasangannya yang sedang kuliah, (dengan tetap menjaga senyum dan melahirkan semangat-semangat baru untuk sang kekasih yang sedang kuliah) ditengah himpitan rasa jenuh membunuh waktu? Bayangkan karir yang para spouse korbankan demi perjalanan jihad menuntut ilmu dari para pasangannya? Lalu, kalau begini apakah anda masih mupeng hidup diluar negri sebagai spouse? Atau bahkan masih saja merendahkan posisi para spouse?
Read More..
Monday, 14 July 2008
Abis dari German

Dan akupun menjawab, "i dont know, Bill". Si Bill menunjukkan ekspresi tidak percaya, mulutnya sedikit terbuka dan keningnya berkerut. Belum sempat dia bertanya lagi, aku balik bertanya mengenai rencana dia di hari ulang tahun pernikahannya. Dan dengan semangat, dia menceritakan mengenai liburan tujuh hari ke cockatoo park.
Hemm, nice holiday tentunya. Tapi apa daya, "my husband still have exam", Jawabku melas. Dan jawaban Bill membuatku makin melas, "oh, porr dear.."
Sedikit ter-profokasi rencana dan ucapan Bill, akupun jadi kepikiran mengadakan sesuatu yang bisa dibilang spesial. Tapi sayangnya, di tanggal tujuh itu angin dingin bertiup lebih kencang dari biasanya dan hujan berkali-kali mengguyur Adelaide. Alhasil, rencana ngampar di Botanic garden sambil bawa sambel pete gagal.
Beruntung Andri punya ide brilian ngajakin ke Hanhndorf dan aja kelalen (plesetan cleland dalam bahasa cirebonan). Didukung Pawita yang rajin buka peta seperti Dora, Dinda yang rajin jalan-jalan, serta keluarga Erna beserta kurcaci kecil-kecilnya yang meramaikan suasana, jadilah kami menyusun rencana itu dengan semangat 45`. Meskipun sudah lewat hampir satu minggu, tanggal 12 kemaren jadilah kami punya sesuatu untuk menjadi cerita dalam nuansa satu tahun pernikahan.
Handorf merupakan perkampungan dengan nuansa arsitektur bangunan kuno german di daerah pegunungan Adelaide. Hahndorf pertama kali di tempati pada tahun 1839 ketika keluarga Prussian Lutheran datang. Nama "Hahndorf" berasal dari Captain Dirk Hahn dari nama kapal "Zebra", yang datang di Adelaide pada tahun 1838 dengan rombongan immigran dari Eastern Provinces of Prussia. Mengunjungi hahndorf membuat saya berasa berada di luar negri, eh, maksudnya eropa. Sepanjang jalan di hahndorf bertaburan galeri, pertokoan, hotel maupun restoran ke german-germanan.
Salah satunya adalah toko selai yang terkenal dan bersejarah di akhir tahun 1830-an yaitu Beerenberg Farm, ketika keluarga Paech bersama imigran german lainnya menempati perkampungan Hahndorf. Farm ini menanam strawberrie, sweetcorn dan sayur-sayuran dengan cara tradisional. Beerenberg terkenal secara internasional terutama pada produksi selainya, home style pickles, chuneys dan saosnya. Selainya sendiri sekarang menyuplai sebagian besar perusahaan penerbangan di Australia dan rute luar negri lainnya, juga pada banyak hotel ternama. Saat ini, Beerenberg telah diproduksi di 23 negara. Di hahndorf sendiri, toko Beerenberg yang kami kunjungi terhitung kecil dan masih menjaga kesan produk rumahan sehingga tampil unik dibanding aneka produk selai yang biasa saya temui di supermarket.
Puas rasanya mengelilingi jalanan Hahndorf yang mengajak saya melalui mesin waktu menuju tahun 1830an dengan suasana pasar germannya. Sayangnya, kami tidak datang di bulan Mei yang biasanya diselenggarakan musik festifal di sini. Kenangan saya mengajak kembali pada kota-kota budaya di Indonesia, salah satunya Jogjakarta yang pernah saya tinggali kurang lebih empat tahun lamanya. Kota ini bahkan lebih kuno dan lebih besar dari Hahndorf. Dalam urusan keunikan, Jogja tak kalah dari Hahndorf, bahkan jauh lebih eksotis. Namun saya akui, pemerintah South Australia me-manage tempat-tempat wisatanya dengan baik. Dengan transportasi murah dan nyaman, menuju Hahndorf cukup 20 menit dari city. Selain itu, pemerintah juga mem-blow up tempat-tempat wisata itu dengan menyebar informasi di berbagai tempat dengan banyak cara, serta mengadakan event-even yang menarik secara periodik.
Dari Hahhndorf, tak lupa kami mampir ke aja kelalen (cleland). Namun bis yang kami tumpangi berhenti sepuluh menit di Mount Lofty Summit untuk memberi kesempatan penumpang mengunjungi tempat tersebut. Dari tempat berketinggian 727 meter diatas laut, Mount Lofty disebut sebagai truly Adelaide's Mount Everest! Dari tempat ini kita dapat menikamti panorama yang laur biasa indah dengan pemandangan kota, the Gulf, Fleurieu Peninsula dan Kangaroo Island. Katanya, tempat ini lebih indah di malam hari. Emm...romantis. Apalagi, kafe yang tepat berada di samping menara pandang ini bernuansa temaram.
Cleland Park merupakan taman nasional dan satwa liar yang berada tak jauh dari Hahndorf. Di sini terdapat kanguru, koala, reptil, dongo (anjing liar australia), emu (ikon pemerintah South Australia), aneka unggas liar, aneka rodentia (tikus, landak dan sebangsanya) berada dalam lngkungan yang bebas. Namun sayangnya, hewan-hewan tersebut "sangat ramah", sehingga tidak nampak sifat liarnya. Kami dengan leluasa mengelus-elus bahkan berfoto ria dengan hewan-hewan tersebut.
Wah, kalau begini, sudah bukan wild animal lagi dong? Lagi-lagi saya membandingkan dengan wild animal ala taman safari Indonesia, di mana hewan-hewan bebas berkeliaran dengan naluri liarnya, dan kita menyaksikan kehidupan mereka nyaris seperti berada di alam mereka. Taman Safari Indonesia, buat saya jauh lebih memuaskan untuk pecinta satwa liar seperti saya. Namun kembali saya akui, managemen taman nasional ini luar biasa. Dengan jumlah satwa yang tidak terlalu banyak dan sebenarnya kurang menarik karena tidak dibiarkan liar (sudah terdomestikasi), tempat ini mampu membuat penasaran siapapun yang berkunjugn ke Adelaide. Penataan interior pintu masuk dan tempat penjualan souvenir dan dilengkapi dengan kafe yang nyaman, membuat nilai lebih dari Cleland Park ini.
Tapi bagaimanapun, jalan-jalan kali ini serasa berada di luar negri, eh di German. Hehhehe, norak ah!
Thursday, 10 July 2008
Profil

Depan
Monday, 30 June 2008
Kagumilah Pasanganmu
Angka di layar laptop yang menunjukkan temperatur masih berkisar 12 hingga 5 derajat, namun tubuh yang masih ndeso ini sudah merasa dihantam berkali-kali. Yah, seperti waktu di Indonesiapun, tubuh ini selalu tidak tahan jika diserang dingin. Tubuh ini selalu bereaksi alergi terhadap dingin dengan meningkatnya histamin, terutama di saluran pernafasan. Jadilah flu yang selalu menjadi penanda bergulirnya musim. Segera kuraih jaket tebal dan syal warna biru yang ada di belakang kursi tempatku duduk. Kuikatkan sedemikian rupa, agar leher ini merasa nyaman oleh hangat.
Musim dingin pertamaku ini mengingatkanku pada bulan yang sama di tahun lalu, saat aku juga terjatuh sakit. Hari-hariku yang super padat itu harus kujalani diantara salak batukku. Mustinya aku bahagia, karena tak lama lagi aku akan menyambut hari yang katanya paling dinanti gadis di seluruh dunia, pernikahan. Tapi persiapan yang menguras tenaga itu melemahkan daya tahan tubuhku.
Kini, hampir satu tahun kejadian itu berlalu. Lelaki itu masih bersamaku. Tak ada manusia yang sempurna di dunia, begitupun lelaki yang kini mendampingiku. Lalu, adakah pernikahan sempurna?
Mungkin sangat premature jika saya menyimpulkan apakah ini pernikahan sempurna atau tidak, atau membuat pernyataan bahwa ada pernikahan sempurna atau tidak ada pernikahan sempurna. Namun ada sebuah resep yang mengatakan, "kagumilah pasanganmu".
Ya, mengagumi pasangan kita mungkin sulit. Tapi marilah kita coba dengan tips berdasarkan pembelajaran saya setahun ini. Yang pertama, lihatlah kelebihan pasangan kita. Pujilah dia dengan kelebihannya. Jangan mengingat kekurangannya, tapi tutupilah kekurangannya dengan kelebihan yang dia punya. Yang kedua, jangan ragu memuji pasangan kita di hadapan publik. Biarkan orang lain tahu dan menilai bahwa kita adalah pasangan yang saling mencintai. Itu akan memberi energi kebahagiaan di sekeliling kita. Yang ketiga, dukunglah pasangan kita untuk meraih prestasi. Jdilah orang pertama yang mendukungnya disaat pasangan kita berjuang, dan jadilah orang pertama pula yang menerima kekalahannya jika dia gagal. Yang keempat, libatkan pasangan kita dengan hidup kita. Carilah celah sebanyak mungkin agar pasangan kita juga banyak berinteraksi dengan lingkungan kita, keluarga kita dan sahabat-sahabat kita. Yang kelima, belajarlah untuk menerima kekurangan pasangan kita juga menerima kekurangan kita sendiri. Tak ada pasangan yang sempurna, dan kesempurnaan bukan hal mutlak yang menjadi dasar kokohnya sebuah hubungan. Namun dengan belajar mengagumi pasangan kita, kita telah meletakkan dasar yang selajutnya bisa dibangun dengan lebih indah.
Selain masalah kagum mengagumi, tentunya keimanan kita jauh lebih penting dalam menjaga keharmonisan pernikahan. Bagaimana tidak, coba anda sedang perang dingin dengan pasangan anda, atau sedang debat kusir tentang pola pengasuhan anak, misalnya. Kalau sudah dikembalikan pada bagaimana agama mengaturnya, siapa yang mau menang sendiri?
Ah, bagaimanapun saya dan suami masih awal dalam belajar. Banyak tahapan hidup dan ujian yang mungkin kami hadapi ke depan. Semoga keimanan menyelamatkan kami dalam bahtera hidup yang katanya laksana perahu di lautan yang penuh ombak dan badai Read More..
Monday, 16 June 2008
Atha Wedding
Alhamdulillah, Atha Wedding semakin mantap menjejakkan bisnisnya di bidang wedding support. Meskipun salah satu pemiliknya kini berada di ujung selatan benua Australia, namun hal itu ternyata tidak mempengaruhi kinerja Atha Wedding. Terbukti dengan tetap mengalirnya konsumen-konsumen baru dan produk-produk costumize yang dipesan.
Saat ini Atha Wedding berkomunikasi by Internet dengan konsumen maupun dengan art designer untuk souvenir, art director dan fotografer untuk undangan, prewedding dan X banner dan divisi produksi di beberapa wilayah. Meskipun terdengar rumit, namun teknologi sangat membantu sehingga bisnis mampur jalan terusss...
Jangan lupa berkunjung ke http://www.athawedding.co.nr/ atau hubungi costumer care kami, Mada:+6285216020200 atau email ke lalitadahana@yahoo.com atau chatting di YM: lalitadahana Read More..
PPS Riwayatmu Kini
Pembiayaan PPS selama ini berasal dari bantuan BKSDA (sekitar 45 persen), Yayasan Gibbon Indonesia (kepanjangan tangan GF), dan donatur salah satunya Profauna. Dahulu, kerjasama antara GF dengan PHKA bisa melahirkan enam buah PPS yang tersebar di sejumlah daerah di Indonesia. Namun akibat kesulitan finansial, satu persatu PPS tersebut mulai tutup. Saat ini tersisa dua PPS yaitu PPS Petungsewu (Malang) dan PPS di Bali.
Saya sempat merasakan masa peralihan antara masa kejayaan PPS dengan masa kebangkrutan PPS. Kala itu saya sebagai volunteer mendapatkan kesempatan untuk belajar menangani satwa liar di PPS Cikananga- Sukabumi Jawa Barat dan memberikan laporan evaluasi terhadap kinerja PPS di lapangan (pada akhir masa voluntary kami). Hak-hak yang saya peroleh tak jauh dari para pegawai PPS antara lain tempat tinggal di dormintori berbentuk panggung dari kayu (pegawai tinggal di mess yang lebih hangat), coffe break setiap jam 9, makan siang dan makan malam. Saat itu meskipun tidak bisa dibilang mewah, tapi PPS cukup mempunyai dana sehingga para volunteerpun mendapatkan jatah makan dan tempat tinggal secara gratis. Namun pada masa saya menjadi volunteer terasa sudah terjadi penghematan di PPS. Karena berdasarkan cerita rekan-rekan yang menjadi volunteer di PPS masa sebelumnya mendapatkan fasilitas lebih, antara lain adanya penggantian uang transport PP ke Cikananga.
Di setengah masa Voluntary kami, datang mahasiswa magang dari FKH IPB. Mereka sudah dikenakan biaya makan selama tinggal di lingkungan PPS. Saat itu sudah beredar kabar mengenai kebangkrutan GF yang tentunya akan berakibat besar pada aliran dana yang diterima PPS. Seperti penyakit kusta, ditutupnya PPS Jakarta tak pelak merembet ke PPS Cikananga. Kini kabar terakhir PPS Petung Sewu Malang mengalami nasib serupa. PPS terakhir yang tersisa, yaitu PPS Bali juga tinggal menunggu "kun fayakun" dan mengikuti jejak PPS lainnya yang tinggal riwayatnya saja.
Sebagai mahasiswa yang pernah mengecap manisnya pengejawantahan ilmu di PPS Cikananga, saya sangat prihatin dengan kondisi ini. Semoga ini tidak menjadi "legalitas" perambahan satwa liar dari habitatnya, apalagi perdagangan satwa liar menjadi kembali marak di negara Indonesia tercinta. Read More..
Tuesday, 3 June 2008
Bekas? Emmm....
Anda mungkin sama dengan saya, kerepotan mengingat barang bekas apa yang pernah dibeli karena saking jarangnya atau malah tidak pernah membeli barang bekas. Tidak membeli barang bekas, mungkin banyak alasannya. Misalnya karena barang bekas tidak ada jaminan atas kualitas, atau karena harganya tidak terlampau jauh dengan barang baru, atau masalah gengsi?
Ah, saya jadi ingin bercerita tentang barang bekas di Adelaide. Di sini, hampir semua barang bisa dicari dalam versi bekas. Dari mulai mobil, barang elektronik, alat dapur, buku, sepatu, stroler bayi, sampai baju, apa saja ada. Uniknya, tidak seperti di indonesia yang biasanya barang bekas dijual di pasar loak dan tidak didisplay dengan menarik, di sini barang bekas cukup terlihat rapi dipajang di toko-toko barang bekas.
Jika di Indonesia orang malu untuk membeli barang bekas, di sini cukup banyak orang yang gemar memburu barang bekas. Selain di toko barang bekas seperti Salvos, OP Shop, Rotari, Hero, Bric a Brac, Cash and Converter, barang bekas bisa juga diburu di garage sale yang biasanya diadakan diakhir pekan. Garage sale adalah sale yang diadakan oleh pemilik barang di garasinya sendiri. Sama seperti dengan toko barang bekas, garage sale juga menawarkan harga yang jauh lebih murah dibanding jika kita membeli baru.
Bayangkan, anda bisa mendapatkan televisi 14" warna, food processor, bakery maker hanya dengan 5 au$. Tak heran jika tak sedikit warga Adelaide yang keranjingan berburu barang bekas. Demikian juga para pelajar asal Indonesia melihat budaya tersebut sebagai budaya yang positif. Para pelajar yang rata-rata berada di sini hanya untuk 1-2 tahun melihat budaya ini sebagai solusi untuk mendapatkan kebutuhan dengan murah. Bisa dimaklumi, karena para pelajar tersebut rata-rata hanya membutuhkan barang tersebut dalam waktu singkat, jadi sayang jika membeli barang baru dan kelak ditinggal pulang ke Indonesia.
Selain dengan cara membeli, bisa juga mendapatkan barang-barang layak pakai itu secara gratis loh? Bagaimana tidak, karena selain menjual barang yang dimilikinya sebagai barang bekas, masyarakat sini juga mempunyai budaya membuang barang bekas miliknya. Jadi jika beruntung, anda bisa mendapatkan alat dapur, stroler bayi, kasur pegas bahkan sepeda di pinggir jalan. Emm...kalau membuang mobil bekas ada ngga ya?? Read More..
Wednesday, 28 May 2008
Resep Ajaib Seniman Kuliner
Biasanya, senyum saya jadikan andalan dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Ini bukan karena saya pelit membagi resep, tapi karena jika saya mengatakan racikan resep saya yang sebenarnya, kasus yang terjadi kemudian biasanya orang lain akan mengatakan bahwa resep saya kurang ini, kurang itu atau seharusnya memakai ini atau memakai itu.
Saya memiliki keterbatasan referensi dalam memasak, tapi untungnya saya menyukai kegiatan memasak. Rasa suka itu akhirnya memberi keberanian untuk mengeksplore setiap sudut yang memungkinkan menimbulkan rasa-rasa baru. Maka jadilah resep-resep ajaib itu dari dapur di rumah tepi payneham road ini. Sebut saja resep andalan saya yang paling sering dibilang aneh sama orang lain adalah Ayam Bumbu Nanas, Gudeg Teh Hitam, atau Brocoli Goreng Keju dan yang lainnya yang belum saya beri nama.
Seperti melukis, memasak juga membutuhkan ruh, jiwa. Harus ada kecintaan yang dihadirkan, digetarkan kemudian dituangkan dalam kanvas-kanvas beraroma. Seorang seniman kuliner harus berani mengenali rasa dari berbagai rempah-rempah sebagaimana seorang seniman mengenali warna dan hasil pencampuran dari warna-warna itu.
Tak hanya itu, seperti dalam ilmu marketing, kemampuan "menjual" dan menganalisis "pasar" juga diperlukan untuk menjadikan masakan sebagai sebuah karya. Kemampuan "menjual" berhubungan dengan bagaimana masakan itu ditampilkan, ditata dan diberi nama yang menggugah. Kemampuan menganalisis "pasar" atau konsumen tidak sebatas bagaimana mengetahui selera konsumen, tapi menganalisa selera baru yang bisa diciptakan untuk konsumen. Selain itu, Mempertimbangkan cuaca, suasana juga merupakan bagian dari menganalisa "pasar". Contoh simpelnya seperti anda menyiapkan sup buah bandung untuk anda hidangkan di siang hari tanpa melihat ramalan cuaca. Bisa anda bayangkan jika ternyata siang hari nanti ternyata cuacanya cloudly.
So, adalah lumrah jika di negara yang cuacanya tak menentu ini saya selalu up date ramalan cuaca setiap hari. Salah satunya untuk memastikan bahwa saya memasak dengan menu yang saling mendukung dengan cuaca saat itu. Read More..
Friday, 23 May 2008
Beranjak
Saya sendiri tidak merasa gengsi ataupun malu untuk bekerja sebagai cleaning service, buruh pabrik ataupun buruh kebun, toh semua pekerjaan itu halal di mata Allah. Apalagi dengan gaji AU$ 200/day, anda bisa menghitung sendiri berapa nilainya jika dirupiahkan. Namun semua itu pilihan, dan jika saya belum juga bekerja tentu ada suatu alasan yang menurut saya dan suami inilah yang keputusan terbaik saat ini.
Saya sendiri memiliki kekuatan fisik yang tidak terlalu bagus untuk bekerja berat. Sejak kecil saya sering sakit, mungkin karena ASI saya tidak genap tiga bulan. Oleh karena itu saya masih pikir-pikir untuk bekerja 6 jam sehari selama 5 hari seminggu dengan tenaga sebagai andalan. Di lain sisi, saya merasa banyak kesempatan yang bisa saya peroleh untuk belajar dan belajar.
Seperti saya ceritakan sebelumnya, saya dan suami hunting short course (yang gratis off course, hehehe). Sehingga saya akhirnya mendapat kesempatan mengikuti Animal Course di Medical School Uni of Adelaide dari Maret sampai April. Setelah menyelesaikan course itu dan mendapatkan dua sertivikat, saya jadi semakin semangat mencari berbagai peluang untuk merefresh ilmu saya yang sempat satu tahun terakhir tidak teramalkan dengan baik. Terlebih, orant tua saya selalu wanti-wanti untuk belajar dan terus belajar sebagaimana Rasulullah perintahkan.
Alhamdulillah, Allah selalu punya cara dan jalan yang seringkali diluar jangkauan kita. Semakin saya menyadari manfaat silaturahim dari perjalanan hidup ini. Berkat silaturahim yang terjalin antara suami dengan dosennya, beliau mendapat kesempatan utnuk mengenal bahkan berhubungan baik dengan mantan dosen dari new england. Dari si mantan dosen ini kemudian kami dikenalkan pada Margaret, dosen Uni of Adelaide yang bersuamikan seorang dokter hewan overseas, dr Collin. Pucuk dicinta ulam tiba, dr Collin mengenalkan kami pada dr Andrew seorang dokter hewan spesialis dermatologi yang juga mengetuai NVE (National Veterinary Exam:lembaga yang mendampingi dokter hewan overseas untuk mendapatkan ijin praktek di Australia)
Berkali-kali kami bersyukur, titik terang itu meski remang-remang semakin tampak. dr Andrew menjelaskan mengenai kemungkinan dokter hewan dari negara lain untuk mendapatkan ijin praktek di Australia. Darinya saya mendapat informasi mengenai NVE, bahkan beliau mengundang saya untuk hadir pada pertemuan rutin NVE kamis lalu, yang sayangnya saya tidak bisa menghadirinya.
Namun dr Andrew sendiri tidak menyarankan saya untk bergabung di NVE karena visa saya yang hanya 2 tahun. Untuk mendapatkan ijin praktek, seorang dokter hewan overseas harus mengikuti 3 tahapan ujian yaitu ujian IELTS dengan nilai minimal 7, ujian paper (3 paper masing-masing kurang lebih 1000 pertanyaan). Setelah menyelesaikan ujian pertama dan kedua, jika dianggap memenuhi maka seorang dokter hewan overseas diijinkan untuk praktek dibawah pengawasan dokter hewan yang direkomendasikan NVE. Dan tahapan ke tiga, student NVE mengikuti ujian praktek. Lamanya proses ini bisa menghabiskan waktu 2 hingga 3 tahun. Bayangkan, 2 hingga 3 tahun hanya untuk merefresh ingatan dan kemampuan kita?? Weleh-weleh, koass saya saja hanya satu setengah tahun.
Kenyataan seperti itu membuat saya nyaris patah arang. Saya merasa, keahlian saya, dimana saya telah disumpah untuk mengemban kode etik veteriner tidak dianggap sama sekali. Namun sebuah email dari dr Collin membuat saya yakin bahwa masih ada harapan untuk merefresh ilmu saya dan mengupgradenya terus. Dr Collin yang melakukan perjalanan ke Vietnam sehari setelah kami bertemu terus memantau perkembangan saya dari sana. Saya jadi berfikir, kalau orang asing yang baru saya kenal dalam waktu kurang dari satu jam saja begitu perduli dengan keahlian saya yang terbengkalai, kenapa saya sendiri ingin mengabaikan kemampuan saya sendiri? Semoga segera setelah dr Collin pulang ke Ausralia, kami bisa kembali bertemu dan berdiskusi seperti apa yang juga dia dan Margaret harapkan.
Sulit bagi saya untuk menghadapi kenyataan diri saya sendiri yang tidak lagi melakukan tugas keprofesian seperti sebelumnya. Memang semua pilihan tentu mempunyai konsekwensi yang harus diemban. Seperti ketika saya memilih menikah segera setelah lulus (yang Alhamdulillah Allah ijinkan bertemu jodoh di detik terakhir :) ) dan meninggalkan bisnis yang sudah saya bangun selama kuliah di Jogja, kemudian mengikuti suami yang hingga saat ini hidup nomaden karena kewajiban menuntut ilmu. Namun saya selalu mengingatkan diri saya, bahwa mendampingi suami adalah suatu tugas yang jauh lebih urgent, lebih mulia kedudukannya dan lebih wajib untuk saya lakukan dari pada mempertahankan bisnis sekalipun.
Pernikahan adalah anugerah sekaligus amanah yang luar biasa, dan saya tak ingin tenggelam dalam kemilau kemandirian yang saya rasakan dulu. Saya ingin menjadi istri seperti Khadijah. Saya ingin beranjak untuk mengambil hikmah atas semua perjalanan yang Allah takdirkan. Mungkin bukan sekarang saya bisa mengamalkan ilmu yang saya miliki untuk masyarakat lebih luas, mungkin Allah punya rahasia lain yang saya tiada kekuatan mengetahuinya.
Namun saya harus senantiasa beranjak dari jejak kaki yang satu dan menjejakkan kaki kembali, mengukir sejarah hidup saya sendiri. Entah sebagai penulis, entah sebagai dokter hewan, entah sebagai cleaning service, apapun itu harus menjadikannya sebagai peluang dakwah. Tunggu saya untuk beranjak... Read More..
Tuesday, 20 May 2008
Kuliner Kudus dalam Peranan Dakwah
Sebagaian besar lidah masyarakat Kudus lebih bersahabat dengan daging kerbau dibanding daging sapi. Jika menilik sejarah, kepopuleran daging kerbau bermula dari dakwah Sunan Kudus yang menghimbau pemeluk agama Islam kota Kudus untuk tidak memakan daging sapi demi menghormati pemeluk agama Hindu yang saat itu menjadi mayoritas penduduk kota Kudus. Sebagai sebuah sarana dakwah yang mengajarkan sikap toleransi beragama, maka kerbau menjadi alternatif daging bagi masyarakat Kudus.
Berawal dari sebuah barang substitusi, daging kerbau yang mempunyai tekstur otot lebih besar dan keras memicu kreativitas penduduk setempat untuk mengolahnya menjadi makanan yang lezat. Sebut saja Soto Kerbau, Pindang Kerbau dan Sate Kerbau, kini menjadi salah satu ikon kuliner Kudus yang unik.
Keberhasilan dakwah Sunan Kudus dan proses penemuan ikon kuliner Kudus ternyata menjadi sebuah korelasi yang tidak bisa dipisahkan. Jika saat itu Sunan Kudus tidak legowo mengajarkan toleransi beragaman terhadap mayoritas penduduk Kudus yang mayoritas Hindu, tentu pemeluk agama Islam akan maju terus pantang mundur untuk mengkonsumsi daging sapi dengan dalih kehalalannya sehingga tidak perlu mencari daging alternatif dan tidak terjadi proses kreatif penciptaan kuliner yang khas. Demikian halnya jika Sunan Kudus saat itu bersikukuh untuk "menghalalkan" daging Sapi, tentu akan terjadi penolakan keras atas dakwah Islam dari mayoritas penduduk yang beragama Hindu tersebut.
Kebijakan Sunan Kudus dalam berdakwah, dengan "mengharamkan" daging Sapi ternyata membuahkan hasil. Kini Kota kecil di bagian utara pulau jawa itu sangat kental dengan nuansa religi Islam. Hampir di setiap sudut kota, sangat mudah ditemukan pesantren dimana santrinya berasal dari seluruh penjuru tanah air maupun manca negara. Jika kita tarik garis sejarah, keunikan kuliner kudus yang kita kenal saat ini ternyata mempunyai peran dalam syiar Islam. Kuliner khas Kudus pun bak mercusuar yang gemilang diantara kuliner khas Indonesia lainnya. Read More..
Saturday, 26 April 2008
Haru Membiru
Wew, sudah berapa lama rentang waktu sejak terakhir kali tulisan saya di sini. Saya mencoba mencari alasan mengapa semangat menulis saya on-off akhir-akhir ini. Namun apapun itu, saya berharap dapat memetik hikmah dari setiap peristiwa yang terjadi.
***
Kemarin adalah public holiday dalam rangka memperingati ANZAC (The Australian and New Zealand Army Corps), karena itu saya ingin menebus jenuh dengan jalan-jalan sambil melihat suasana kota yang lagi memperingati peristiwa Gallipoli pada 25 April 1915 lalu. Namun berhubung hari jum`at, saya dan suami mengagendakan untuk sholat Jum`at di sela-sela jalan-jalan kami.
Di ruangan khusus akhwat pada Masjid yang tak seberapa besar itu saya berada diantara sekitar 25an muslimah lainnya dari beragam latar belakang ras. Kebanyakan berkulit gelap dan wajah khas ras africa, beberapa wajah timur tengah, dan 5 orang berwajah bule. Ruangan yang sempit membuat kami yang duduk berdekatan itu semakin rapat, tak berjarak.
Saya mengamati cara sholat mereka saat tahiyatul masjid, ada beberapa perbedaan dengan yang saya pahami pada gerakan-gerakan sholatnya. Begitupun dengan cara kami berpakaian dalam sholat. Ada yang mengenakan mukena seperti umumnya di Indonesia, ada yang mengenakan jubah seperti di Arab, ada yang mengenakan sari seperti di India, namun ada juga yang mengenakan celana jeans dan cardigan lengan panjang serta syal untuk menutupi kepala. Yang terakhir adalah seorang gadis muda dengan rambut pirang dan kulit bule, kalau orang Indonesia bilang.
Tak berapa lama dari saya duduk di ruangan itu, adzan pertama berkumandang. Trenyuh hati saya, seolah ada ribuan kerikil yang melintas dalam benak ini. Ruangan itu begitu hening, kecuali tangisan bayi yang sesekali mewarnai suara hembusan nafas kami. Di sela-sela kutbah Jum`at yang disampaikan dalam bahasa inggris itu pandangan mata saya baur oleh air mata yang menyelimutinya.
Ya Allah, sudah berapa lama saya tidak merasakan haru yang membiru seperti ini? Hingga Engkau tampar perasaan ini berkalia-kali, baru saya kembali tersadar, telah jauh hati ini meninggalkan Engkau.
**
Saya bergabung dengan jama`ah muslimah yang lainnya, merapikan sajadah di ruangan itu seusai sholat. Ada kata-kata yang tak tersampaikan, karena banyak diantara mereka tidak berbahasa Inggris. Namun senyum tulus itu mengatakan, "Kita saudara".
Hati saya berbuncah-buncah bahagia, apalagi ketika di pintu keluar, salah seorang jama`ah menawari saya untuk membawa roti Lebanon. "Halal..halal", ucapnya. dan saya mengerti bahwa roti itu boleh saya bawa pulang.
Dalam perjalanan pulang, saya teringat cerita suami bahwa setiap Jum`at selalu ada roti atau kurma yang disediakan gratis. Namun biasanya nyaris expired. Saya lihat tag pada kemasan roti yang saya ambil tadi, tanggal yang tertera menunjukkan masih tersisa dua hari sebelum kadaluwarsa. Namun pada kemasan tertulis, roti tersebut mampu bertahan 8 bulan jika disimpan dalam freezer.
Resep pizza yang ada di balik kemasan itu menggoda saya untuk mencobanya, hemm..mungkin akan jadi pizza halal saya yang pertama di sini. Read More..
Monday, 7 April 2008
3/4 Umurku yang Lalu
Pintu mobil ambulance itu masih belum di buka, saat pintu mobil krem itu dibuka. Dari dalamnya keluar mbah putri berkebaya hitam, di papah beberapa orang dan di bawa masuk ke dalam rumah. Tak lama, orang-orang yang sama kembali ke halaman dan mengerumuni pintu belakang mobil ambulance. Mereka yang berkerumun itu adalah bulik-bulik, om dan bapak ibuku. Dalam kerumunan itu, bulik Susana melihatku yang sedang mengintip dari balik jendela kamar.
Kulihat Bulik membalikkan badannya menuju rumah. Tak lama kemudian kudapati dia sudah berada di pintu kamar. "Hari ini Mbah Ustad pulang," Ujar Bulikku berlutut di hadapanku. Aku palingkan mataku ke arah jendela lagi, kulihat pintu ambulance sudah di buka.
"Iid nggak boleh nangis ya, biar mbah lega pulang ke sana"
Aku mengagguk, tapi tidak mengerti. Ku lihat wajah Bulik ku sayu. ku urungkan pertanyaan-pertanyaan yang ingin berloncatan seperti buah bekel.
Aku tidak menangis, seperti pesan bulik, tapi sesungguhnya aku tidak mengerti mengapa harus menangis. Dari balik jendela ku pandangi rombongan berlalu dari halaman rumah sembari memikul kotak hijau. Kulihat bulik sesenggukan dalam pelukan Ibu.
***
Peristiwa itu terjadi lebih dari 3/4 umurku yang lalu. Kesempatan terakhir bertemu Mbah Ustad yang tak kupergunakan.
***
Pagi masih menyisakan embun di ujung-ujung daun rambutan ketika pintu gandok timur terbuka dari luar. Sosok lelaki melangkah masuk, menghampiriku yang sedang berada di depan kompor. Aku mengenal betul wajah itu, meskipun kini terlihat lebih segar, lebih gemuk dan lebih muda dibanding terakhir kali kami bertemu. Lelaki itu tidak mengatakan apapun, hanya mencium keningku hingga aku merasa seperti embun yang tertimpa sinar matahari pagi.
"Mbah Ustad ampun tindak malih (1", pintaku. Namun cahaya yang menyilaukan mata membawanya menjauh. Tanganku tak mampu menahannya. Bibirku hanya terus memanggil namanya, " Mbah...mbah...". Mataku semakin buram, hingga tak mampu kulihat cahaya itu lagi.
Remang-remang suara-suara memanggilku, seperti gaung bibir sumur. Ku buka mata perlahan, mengijinkan sinar temaram menerobos celah pandanganku. Nyawaku berlarian berkumpul saat kuperhatikan ke sekeliling tempatku berbaring.
Lembaran Bus Time Table di samping bantalku menyadarkan bahwa aku berada jauh dari gandok timur rumah jawa kami.
Ku seka air mata yang mengaliri pipi. "Mbah, dalem kangen (2." Hanya kalimat itu yang lirih ku hela, meski hati ini menyimpan ribuan kata rindu.
(1:Mbah Ustad jangan pergi lagi
(2:Mbah, saya kangen Read More..
Thursday, 20 March 2008
Manusia Luar Biasa di Adelaide. Bagaimana dengan di Indonesia?
ri fasilitas kota, Adelaide lebih pantas menjadi ibukota dibanding Jakarta. Terutama pelayanan dan fasilitas pada manusia luar biasa. Saya tidak ingin menggunakan frasa "penyandang cacat" karena seolah menghakimi Allah. Saya yakin bahwa tidak ada manusia yang diciptakan cacat di dunia ini. Dengan fisik yang tidak sama seperti kita bukan berarti menjadikan mereka cacat atau kurang. Mereka sama, justru di mata saya, mereka luar biasa. Kalau kita bisa mandiri dalam artian kemana-mana sendiri, memenuhi kebutuhan sendiri, bisa sekolah tinggi, bisa kerja dengan baik, itu wajar. Tapi mereka yang luar biasa itu mampu melakukan hal yang sama dengan kita meski organ tubuh mereka tidak seperti orang kebanyakan.
Di kota ini, trotoar lebar dan tidak terlalu tinggi dari jalan raya, sehingga dengan mengendarai kursi roda ataupun skuter, tetap nyaman untuk berjalan keliling kota. Di mana-mana, terdapat fasilitas dengan logo kursi roda, yang artinya available untuk mereka. Seperti di bus atau kendaraan umum lain, manusia luar biasa justru diutamakan. Bis akan dimiringkan sisi kirinya mendekati sisi trotoar setiap kali berhenti di bus stop, sehingga memudahkan siapapun yang akan naik maupun turun. Sopir buspun akan membantu agar kursi roda dapat dengan mudah masuk ke dalam bus. Kursi bagian depan selalu dikosongkan untuk mereka yang mempunyai keistimewaan itu ataupun para lansia.
Saya jadi mikir, katanya manusia Indonesia ramah-ramah. Ah, kita kepedean sebenarnya. Saya sekarang merasa betapa cueknya manusia Jakarta terhadap manusia lainnya. Pepatah tak kenal maka tak sayang, sangat berlaku di Jakarta. Jangankan memberi kesempatan yang sama dalam bidang akademik ataupun pekerjaan terhadap "penyandang cacat" (orang indonesia menyebutnya begitu bukan?), fasilitas umum untuk mereka saja tidak ada. Mereka hidup, mereka ada, tapi mata kita ditutup seolah mereka tidak ada, tidak pernah dilahirkan. Atau kalaupun kita sadar bahwa mereka dilahirkan, mereka dianggap tak bisa melakukan apapun, lebih parah lagi kalau beranggapan bahwa mereka tidak mengerti apapun.
Lintasan ingatan dan kegundahan saya rasa sejak hari kedua di negri Aborigin ini. Saya jadi sering membanding-bandingkan dengan negara saya sendiri. Negri yang saya cintai karena sejarahnya diperjuangkan oleh leluhur yang darahnya mengaliri tubuh ini.
Ah, Indonesia, bagaimanapun tetap kucinta. Tunggu baktiku padamu, negriku. Kan kuteruskan perjuangan leluhur menegakkan martabatmu. Read More..
Tuesday, 18 March 2008
Ilusi Cinta
***
Bis melaju sedikit tergesa saat melewati tikungan North Terrace, membuat penumpang yang berdiri di lorong bus seperti perahu dihantam ombak. Kalau begini keadaannya, saya jadi ingat Trans Jakarta yang selalu super duper padat saat jam-jam pulang kantor. Tapi di sini jarang-jarang saya terdesak dalam bus seperti ini, hanya pada sekitar jam empat sore yang berbarengan dengan jam pulang sekolah dan itupun tidak sepadat di Jakarta.
Perempuan yang duduk di kursi menghadap belakang itu kembali tersenyum padaku. Kali ini dia tidak menutup wajahnya kembali dengan buku. Hanya saja kemudian dia menunduk membenahi tas kain yang diletakkan di bawah kakinya dan memasukkan buku warna putih itu ke dalamnya.
***
Bis melaju melewati Payneham Bowling Club ketika kupencet tombol merah di tiang kursiku.
"Thanks!", seruku. Sopir bus itu melambaikan tangannya. Aku tak turun sendiri, seperti anak ayam kami berhamburan keluar dari pintu belakang. Setelah bis menjauh, aku berjalan pelan seolah ada yang menungguku.
Angin berhembus tipis, membawa sejuk yang wangi. "Oh, its real autum!" Teriakku gembira dalam hati. Ku jejakkan kaki pada ranting-ranting di tepi trotoar, membuatku merasa ditemani oleh suara jejak kakiku sendiri.
Di bawah tiang rambu lalu lintas itu aku menunggu jalanan sepi dari kendaraan. Hup! aku bergegas menyeberang ketika jalan sedikit lengang. Uh, setiap hari aku melakukan tindakan ilegal ini. Dan aku selalu saja punya alasan, karena untuk menyeberang dari perempatan sana terlalu jauh dari tempat tinggalku yang hanya beberapa meter dari bus stop 15 tadi.
Aku masih berjalan pelan, dan selalu ku pilih jalan-jalan yang dipenuhi daun-daun kering. krak..krak..namun kadang suaranya berganti menjadi srek...srek..ah, aku senang sekali mendapat beberapa nada hari ini. Aku meloncat-loncat kecil dari satu tumpukan daun ke tumpukan daun yang lain, kemudian berpindah ke tumpukan ranting, dan terus berpindah-pindah hingga seolah terdengar musik yang ritmik.
Di depan pintu, dari bayangan kaca aku melihat perempuan yang sesekali mencuri pandang padaku tadi. Aku menjadi ragu untuk segera masuk. Kali ini aku tidak ingin membiarkan rasa ingin tahuku pergi begitu saja. Aku harus menanyainya.
Namun seketika aku membalikkan tubuhku ke arah belakang, dia sudah tidak ada. Mataku mengamati sekeliling, kuharap menemukan perempuan cantik itu. Daun-daun di halaman bergerak seolah ada yang pernah singgah kemudian pergi. Aku berjalan perlahan kembali ke taman, mungkin bisa menemukannya. Ku cari hingga ke arah trotoar, tapi nihil.
Aku memutuskan kembali ke rumah, tapi begitu sampai di depan pintu, perempuan tadi muncul lagi di bayangan kaca. Dia tersenyum-senyum padaku. Ada binar bahagia di matanya. Ah, aku dibuat kesal olehnya. Kesal sekaligus penasaran. Siapa dia? Dan mengapa mengikutiku lalu menghilang, kemudian muncul lagi?
Aku berusaha menghapus rasa mau tauku. Kutarik handle pintu kebawah kemudian mendorongnya. Aku masuk mengikuti pintu yang terbuka. Tapi dari bayangan kaca, aku melihat dia masih mengikutiku. Kali ini dari jarak yang tak jauh. Tapi biar saja, aku tidak ingin lagi menoleh ke belakang, karena aku tahu dia akan menghilang.
Lalu siapa perempuan di bus itu? Kerudungnya berwarna pink dengan dengan bross mutiara kecil di dada kirinya. Dia selalu tersenyum padaku. Bukan hanya bibirnya, tapi matanya selalu berbinar, seolah ingin mengatakan kegembiaraan yang meletup-letup.
***
Aku mematut diri di cermin kamar. Di bayangan cermin itu kini aku melihat jelas perempuan tadi ada di sini, lengkap dengan kerudung pink dan bross mutiaranya . Kemudian kulihat mata dan senyumku di kaca, aku persis dengannya.
Tas kain dengan buku putih di dalamnya juga ada di sini. Perlahan kudekati, ku keluarkan buku itu. My Baby Diary, judulnya. Kubuka-buka sekilas kemudian kuletakkan di samping tas itu. Tanganku meraih bungkusan-bungkusan dari dalam tas dan aku menemukan cangkir-cangkir cantik berwarna coklat. Di bawahnya, dalam bungkusan plastik, kutemukan satu stel gaun yang indah dan dua buah baju hangat berwarna coklat.
Aku kenal betul barang-barang dalam tas itu. My Baby Diary itu harganya hanya $3, dan cangkir-cangkir itu kami pilih satu set dengan cangkir penuang susunya untuk menjamu tamu. Gaun cantik itu yang membuatku tampak seperti purple princess di fitting room. Dua buah baju hangat itu mempuanyai model yang cantik dan unik. Yang satu berwarna lebih muda, dengan kancing setengah bagian depan bersilangan, sedangkan yang berwarna lebih tua terkesan formal dengan potongan panjang diatas lutut.
Ahaha, perempuan itu aku sendiri rupanya. Autum menemani kebahagiaanku dengan memberi ilusi sepanjang perjalanan tadi. Atas hari yang indah bersama kekasih hati di Adelaide Office dan melanjutkan petualangan belanja penuh cinta.
Laf u, Yanko! Read More..
Monday, 17 March 2008
Tanah yang Ku Rindu
***
Aku masih ingat kalimat itu, seolah beliau juga ada di sini dengan membawa sejuk sisa hujan dan lekat aroma tembakau. Di sini, sebuah tempat yang hanya 5 cm dari peta Indonesia aku tergugu.
Di sini bumi Allah, yang berlaku hukum Allah. Sujudku di atas debu milik Allah. Wudhukupun dengan air milik Allah. Semua sama, di sini maupun di sana.
Allah dan hanya milik Allah!
Namun salahkah aku jika merindu, setetes air yang membutir di daun pisang belakang rumah. Angin yang menyisik daun bambu hingga gemerisik. Debu yang menghempas hingga daun-daun terlepas dari rantingnya.
Aku rindu melayani Ibuku, menyisir rambutnya yang menipis. Aku rindu membuat mangut panggang, yang akan menjadi alasan Bapak memujiku. Aku rindu menangis karena Ibu dan Bapak tak berkenan karenaku. Aku rindu, apapun itu asal di dekatnya, mereka berdua.
Dan tak jauh dari rumahku ada tangan yang ku rindu untuk kuberikan baktiku, Ibu mertuaku. Dia juga ibuku, wanita yang menempati dasar hatiku meski tak melahirkanku. Disampingnya, lelaki yang ku nanti untuk berbagi pemikiran itu Bapak mertuaku.
Ya Allah, hati ini engkau ciptakan berlobus-lobus, beruang-ruang agar mampu membagi hati dengan yang lain. Namun ada hati yang slalu lebih kurindu dari semua hati, ada jiwa yang lebih kurindu dari semua jiwa dan ada tanah yang lebih kurindu dari semua tanah. Adalah Engkau, ya Rabb.
Adalah Engkau ya Rabb. Ijinkan hati ini selalu menemuiMu, dan jasad ini bisa menyentuh tanahMu.

Adalah Engkau ya Rabb!
Kupanggil Engkau agar Engkaupun memanggilku
Panggil aku..
Menuju tanahMu.
Read More..
Friday, 14 March 2008
3 Jam Bersama Mice Idol
***
Mungkin perasaanku tak jauh dari ucapan gadis kecil dalam iklan itu. Ada perasaan sedih, takut, malu, namun di sudut hati ada perasaan ingin yang begitu kerasnya. Perasaan itu begitu mbingungi membuat langkah hati maju tidak mundur juga tidak.
Ini gara-gara sebuah email. Ya, sebuah email yang akhirnya mampu meluluh lantakkan ketakutanku. Sebenarnya sudah sejak sebelum berangkat ke Adelaide, suami atas ijinku mendaftarkanku pada serentetan course di medical school uni of adelaide. Saya sendiri tertarik saat suami menawarkan untuk mendaftarkan, apalagi ada embel-embel "free" di undangannya.
Serentetan course itu bermula di Wine yang sudah saya ceritakan sebelumnya dengan judul Animal Ethics Course I, maka hari ini adalah rentetan kedua saya harus menghadiri acara itu. Seorang teman dekat saya di kampung yang bahasa Inggrisnya lebih jago dari saya (jangankan jago, day old chick aja saya mungkin enggak) mengatakan, "gile lu feb, berani aja ikutan. Pan bahasa Inggris lo pabelieut." Dalam hati saya menggumam, "Biarin bahasa inggrisku pabelieut, yang penting bahasa Indonesia dapet A". Hayah!
Saya bukannya nekad, sok-sokan, keren-kerenan apalagi gila seperti kata teman saya itu. Saya lebih dari sekedar ingin tahu, ingin cari pengalaman, ataupun cari sertivikat. Saya ingin lebih dari itu.
Sudah saya bilang, saya bukan wanita biasa. Bukan mengartikan saya lebih, hanya saja saya ingin mengalahkan diri saya sendiri. Saya tahu, dalam darah ini syetan mengalir lebih dekat dari nadi, memberi pengaruh untuk takut maupun berani. Sayangnya, dia memberi pengaruh untuk takut pada hal-hal yang benar dan berani untuk dalam kesalahan. Lalu apakah saya akan membiarkan mahluk hitam itu memenangkan pertarungan hati? Makanya, saya bilang saya bukan wanita biasa. Saya tidak mau nyerah, meski terbata-bata, tergagap, tersandung, terjerembab. Saya ingin terus berjalan.
**
Siang tadi akhirnya saya menemukan Medical School South Building, Laboratory room 210. Letaknya tepat di depan pintu darurat level 2.
Baju laboratorium itu tetap saja kebesaran untuk tubuh saya yang sebenarnya gemukan setelah menikah, namun saya harus mengenakannya. Baru 2 peserta yang hadir saat saya memasuki pintu itu, dan senyuman ramah mereka menggugurkan balok es pertama yang menutupi wajah saya.
Saya jadi ingat waktu penelitian diabetes saya 2004 silam, berminggu-minggu berkutat dengan aroma mice seperti ini. Lebih parah, karena saya menggunakan tikus strain SD yang besar dan kekar. Saya lupa kepanjangan SD, tp si SD ini punya gerakan kepala secepat avatar, siap menggigit manakala kita salah merestrainnya.
Sama seperti kerjaan saya sewaktu penelitian dulu, di laboratorium ini saya diajari untuk menghandle mice, memberikan injeksi, sexing, colecting blood and after that euthanasia. Saya jadi mikir, ini seperti membalikkan waktu. Mustinya saya belajar ini dulu baru penelitian diabetes dengan si SD.
Saya terbata-bata hanya untuk sekedar mengucapkan kalimat sederhana, dan merasa bule-bule itu berbicara sambil mengunyah permen karet sehingga terdengar menggumam. Saya sebenarnya malu, takut, grogi dan perasaan campur aduk lain tiupan syetan. Berkali saya baca basmalah, menanti uluran Allah mendefrag hati ini.
Saya hanya mencoba melakukan sesuai instruksi, mengambil mice dengan ekornya, meletakkannya di tutup keranjang kemudian menjepit tengkuknya dengan tangan satunya. Hup, balikkan tangan, kemudian jepit ekor dengan ujung jari kelingking.
"Beautiful," sahut Jeanny salah satu peserta. Yang lain menimpali, "great!". Ah, meleleh lagi balok es di hadapan wajahku.
Tibalah kami dikejutkan dengan meloncatnya salah satu mice dari keranjang. Ini sangat lucu buatku, melihat ekspresi mereka yang seolah mice adalah seseorang. Beberapa orang mengejar-ngejar sampai menelusurkan tubuhnya di lantai. Kami seperti fans yang tak ingin melewatkan idolnya ada di depan mata untuk meminta tanda tangan atau sekedar mencubit pipinya.
"Come on baby, dont jump", seru Joana mahasiswi Phd itu. Saya dengan sigap mencegat dari arah berlawanan sambil berbisisk, "come to me, sweety". Ah, saya jadi ikut-ikutan memanggil mereka sweety, hehehe.
Nggak kebayang, jika mereka di Indonesia, betapa banyak tikus seperti itu di lorong-lorong pemukiman Jakarta. Mungkinkah mereka akan juga mengejarnya dan berkata,"Dont jump sweety, come to me!"
Saya cengar-cengir memikirkannya sepanjang perjalanan menuju bus stop. daun-daun berguguran tertiup angin dan selalu berhenti di depan langkah saya, membuat irama cantik setiap terinjak. Matahari tak terlihat di balik Bonython Jubilee, namun biasnya menyilaukan mata ini. 40 derajat, buatku terasa hangat sehangat hatiku.
Alhamdulillah, ternyata teman-teman mau "bermain" denganku. Read More..
Wednesday, 12 March 2008
Autum di 40 derajat
Dari tempatku duduk ini, bermacam warna kulit lalu lalang dengan bermacam pula model kain pembungkusnya di hadapanku. Ada perasaan risih, ketika seorang gadis melintas dengan berbalut kain yang minim. yah, kain. aku menyebutnya demikian, karena tidak cukup layak disebut sebagai pakaian. kain itu, jika tidak dijahit dan dijadikan bahan jilbabku saja mungkin tidak cukup.
aku yakin pasti, gadis itu bukan kekurangan bahan kain, mau ngirit atau lebih-lebih tidak mampu. tapi itulah kebebasan yang mereka sebut fashion.
Duhai wanita, sesempit ukuran pakaianmu itukah cara berfikirmu? bukankah kebebasan justru ketika kita bebas meyakini kebenaran yang hak? dan bebas pula menegakkannya? tanyakanlah pada hati nuranimu. mungkin kau perlu mencarinya di kedalaman jiwa, karena kita sering menutupi nurani kita dengan kamuflase dunia.
ah, sulit memahami meraka, begitupun mereka mungkin sulit memahami saya yang seolah bungkusan lontong di tengah Rundle Mall.
Jika Aku Tinggalkanmu
penggalan lagu yang sempat membuatku menangis ketika awal lagu itu terdengar di walkman pinjeman.
lagu itu kini membuatku kembali berfikir, jika aku yang harus pergi, sudah siapkah aku? meninggalkanmu di sini?
kita tlah jalani 8 bulan 11 hari pernikahan. pertemuan indah itu, pasti akan ada ujungnya. jika nanti aku yang lebih dulu pergi, aku ingin engkau berjanji. "jika engkau ingin menikah lagi, pilihlah wanita yang bisa meneruskan perjuangan kita. Yang mengerti bahwa hidupnya adalah untuk Allah. Yang juga menyayangimu karena Allah, dan juga menyayangi keluarga kita."
aku tau, aku bukan sebaik wanita. namun pilihlah aku menjadi bidadari surgamu.
engkau menghela nafas, seolah ada segunung pasir memenuhi hidungmu. aku rasakan serpihan air matamu menetes di pipiku. pipi kita saling berjabat, tak kau lepaskan.
dengan kesadaran diri, kulanjutkan dengan janjiku. "sayang, jika engkau yang lebih dulu meninggalkanku."
kemudian kutarik nafas sesaat,"seorang perempuan akan bersama suami terakhirnya di surga kelak. dan aku ingin engkau yang mendampingiku. semoga Allah mencukupkan kebahagiaanku atas hal itu, dan menjadikanmu yang terakhir bagiku."
aku lega telah menyampaikan ini. dan bila takdir itu tiba, semoga Allah menguatkan kita untuk menanti bersama lagi di hari pertemuan itu.
(entah mengapa, aku merasa waktuku tak lama. astaghfirullah hal adzim) Read More..
Tuesday, 11 March 2008
Vegan Dogs, mungkinkah?
sudah diatur Allah, hingga pertemuan saya dengan volunteer dari sebuah stand vegan saat South Australian Animal Show hari Minggu kemarin menjadi salah satu jawabannya.
Mungkinkah anjing menjadi vegan? tentu bukan pilihan si anjing menjadi vegan, tp si pemilik yang biasanya vegan menginginkan pet animalnya juga menjadi vegan. atau mungkin karena penyakit tertentu yang mengharuskan si anjing menghindari daging dan harus menjadi vegan.
Menjadi vegan buat anjing secara seratus persen dengan makan makanan vegetarian seperti kita sangat tidak mungkin, karena anjing mempunyai kebutuhan akan asam amino yang tinggi. oleh karena itu meskipun diberikan makanan vegetarian, anjing perlu mendapatkan tambahan asam amino.
volunter tadi, kemudian dengan senang hati menuliskan sebuah merek vegan pet food yang bisa saya cari di Goodwood Road. sebuah ketulusan yang mengetuk hati saya untuk tahu lebih banyak tentang vegan. Thanks Guys. Read More..
Wednesday, 5 March 2008
Diary Pengantin 1 Bulan
Mencintai atau dicintai bukanlah hal yg harus dipilih, karena keduanya bisa menjadi pilihan dalam waktu bersamaan, namun bisa pula menjadi konsekwensi bahkan tuntutan secara tidak langsung dalam pernikahan. Yah, setidaknya mungkin itulah yang aku simpulkan selama sebulan ini menikah.
Begitu selesai ijab qabul, sah-lah aku menjadi miliknya, dan dia milik saya. Saat itu belum ada hasrat, naluri dalam diri saya untuk mengekspresikan cinta. Jangankan mengekspresikan cinta, lha wong jatuh cinta aja belum.
Tapi jangan anda menduga bahwa saya kawin paksa atau dipaksa kawin. Sebentar, saya jadi ingat ketika petugas dari KUA melakukan pemeriksaan dua hari sebelum hari H pernikahan dilangsungkan. Waktu itu, masing2 dari kami ditanya mengenai kesanggupan kami setelah menikah nanti. Ada satu pertanyaan yang saya rasa janggal, “mbak drh. Feb, apakah anda menikah atas paksaan, atau anda menikah karena keinginan sendiri? Apakah anda bersedia mencintai mas Suprehatin, SP kelak setelah menikah dan setia kepadanya?” Whualah, pertanyaan apakah ini? Saya merasa asing dengan jawaban yang mustinya segera saya sampaikan waktu itu. Lalu saya harus jawab apa?? Untung kakak ipar saya yang waktu itu menjadi saksi pemeriksaan seolah mengerti apa yang bergejolak dalam hati. Dengan tangkas laksana juru kampanye dia memberikan jawaban yang sebenarnya tidak persis seperti apa yg ada dalam hati. Tapi sudahlah, yang penting acara pemeriksaan itu segera selesai.
Kembali lagi ketika ijab qabul selesai dilaksanakan, dan doa keberkahan untuk kami dipanjatkan massa yang hadir saat itu (massa?? Duh, latah kampanye deh?!), dengan digandeng kakak tercinta dan bulik tercinta aku dipertemukan pertamakali dengan Sang Suami. Duh, pertama kali aku mencuri pandang pada matanya yang menyisakan ketegangan ketika jiwanya mengucapkan “qabiltu bil mahri madzkur”
Tak kuasa kutundukkan mataku kembali, tapi supporter di hadapan membuat kami tak bisa menghindar. Papparatzi tak mau kehilangan moment itu, saat dia menyerahkan mahar yang kumintakan sebagai syarat pernikahan kami, tujuh ribu tujuh ratus tujuh, nominal uang kuno. Sorak sorai keponakan dan sepupu yang belum pada menikah (aku menyebut mereka para kurcaci) meriuhkan setiap fotografer meminta kami berdekatan. Ugh, kesel, malu dan capek campur aduk jadi satu. Tapi ups, aku tetep terseyum dari hati terdalam menyambut tamu yang hadir memberikan doa dan selamat kepada kami.
Tapi ada satu hal lagi yang membuatku ga tahan berlama-lama berada di panggung kebesaran kami sore itu. Yang pertama, azan ashar telah berkumandang satu jam yang lalu (Duh, Allah, hamba tidak rela jika tidak segera menghadapMu meski ini hari bahagiaku). Yang kedua, ternyata senyum adalah olah raga wajah, yang artinya, kalau dilakukan secara over dosis ya capek juga. Yang ketiga, bunga yang menjadi mahkota diatas jilbabku yang berkibar ini teramat berat.
Empat seperempat PM, kami diperbolehkan meninggalkan keramaian manusia yang jg berbahagia dengan kebahagiaan kami. Dia menggandengku. Ehm, ini kali kedua dia menyentuhku, setelah dengan kegrogian kami saat dia mengenakan cincin di jari manisku. Dan sekali lagi, sorak sorai yang menggoda kerikuhan kami terdengar mengiringi jalan kami.
Yang paling kutakutkan tiba, yang paling menyesakkan melanda. Kamar pengantin yang indah itu menyempit ketika hanya ada aku dan dia. Aku kebingungan mencari cara untuk melepaskan mahkota jilbabku dengan cepat, karena tepat di belakangku, dia sibuk membaca sms yang mengalir sedari tadi (ah, itu hanya cara dia mengalihkan kegrogian berada sekamar denganku, yakin!). ”Mas, tolong hadap ke sana dulu, ya” Akhirnya aku memohonnya sekedar untuk memastikan dia tidak melihatku kala aku berganti kostum, dengan pernik keganjilan yang ada. Sejenak, aku sempat berfikir untuk memintanya keluar saja, tapi ada rasa ngga tega.
Malam menanjak pada bulan diatas sana. Aku gelisah dalam diamku, pada pertanyaan-pertanyaan batinku sendiri. Apakah ada cinta? Mungkinkah cinta akan mengalir dengan sendirinya? Aku kembali teringat pada pertanyaan yang kunasehatkan pada sahabatku yang mengalami pre marital syndrome setahun yang lalu, ” apa susahnya sih, mencintai laki-laki baik yang kita nikahi?”. Pertanyaan itu menyerangku dalam lamunan, menasehati diriku sendiri yang kebingungan dengan perasaanku sendiri. Aneh, sewajarnya aku mengalami ini sebelum pernikahan. Tapi kenapa baru sekarang muncul keraguan? Sedangkan ketika aku menerima niatnya untuk melamarku pada orang tuaku, aku begitu yakin dengan keputusanku. Ya, aku begitu yakin setelah istikhoroh dan kemudian Allah memudahkan jalan itu hingga peristiwa sakral tadi berlangsung.
Ketakutanku dalam lamunan pecah oleh keberadaan seorang lelaki di sampingku. Aku sempat terhenyak, kok tiba-tiba ada laki-laki merebahkan tubuhnya di sampingku? Berani-beraninya memandangku begitu?! Ugh, hampir saja emosi mengajakku ke alamnya, kalau saja dia tidak tersenyum persis seperti senyum yang sedikit tegang setelah ijab qabul tadi. Oh, ya, dia telah halal melihatku...
Malam sangat panjang, degup jantung menguat meski kami hanya berbincang dan mereview persiapan pernikahan kami selama ini. Tak jarang dia mampu membuatku tertawa jika mengingat saat awal kami dipertemukan kembali. Tapi itu tak mampu mengubah degup di dada ini yang semakin menguat dalam lajunya.
Aku yang pernah belajar anatomi dan fisiologi tetap saja tidak mampu menganalisa kenapa secepat ini jantungku berdegup tanpa terasa sakit, tapi justru menghadirkan suatu rasa baru, suatu asa baru. Degup itu perlahan mampu kufahami sebagai bagian dari diriku yang harus kuterima, sehingga tubuhku tak menganggapnya sebagai kejadian asing yang perlu mendapat respon tubuh untuk melokalisir atau menetralisir.
”Masih punya wudhu?” tanyanya. Aku mengangguk, dan mengikutinya bangkit dari tempat tidur yang kemudian merentangkan 2 sajadah. Dalam sujud terakhir dua rakaat berjamaah kami, aku memohon pada Kekasihku,”ya Rabbi, inikah cinta yang Kau takdirkan untuk kucintai. Yang Engkau ridha pada perasaan dengan segala konsekwensi yang timbul setelah itu? Ya Rabbi, jika dialah lelaki takdir itu, maka ijinkanlah hamba mencintainya tak lebih dari cinta hamba padaMu dan kepada RasulMu, amin.”
Masih diatas sajadahnya seusai berdoa, dia menghadapkan tubuhnya dan mengulurkan tangannya untuk kuhaturkan baktiku. Dengan kelembutan dia raih kepalaku, mencium kening dan meniupkan doa di ubun-ubun kepalaku. Tak berhenti aku mengamini, ”amin...amin ya Rabbi, Qabiltu ya Karim..”
”Rabbi, inilah takdirku, mudahkanlah kami untuk mencintai dan dicintai, amin”. Paraning tresno jalaran saking kulino.
*** Read More..
Animal Ethics Course I
Tuesday, 4 March 2008
Aku Menikah denganmu lalu Mencintaimu
Suamiku, saat aku marah kepadamu, selalu aku memohon pada Allah untuk membuka pintu hati diantara kita kemudian membersihkannya dari debu-debu kebencian. Sayangku, saat aku marah padamu, selalu saja Allah melintaskan kenangan-kenangan baikmu kepadaku hingga luluhlah prasangkaku.
hampir 8 bulan, tak pernah sekalipun kau biarkan air mata ini tumpah sia-sia. selalu ada hikmah yang kita ambil dari setiap kekecewaan. delapan bulan, tak pernah sekalipun engkau biarkan aku merasa hidup sendiri.
kau dan aku, satu jiwa.
aku mengerti kenapa bakteri ada yang berkempang biak dengan meleburkan dirinya dengan bakteri yang lain. seperti itulah jiwa kita, saling melebur, untuk melahirkan energi-energi baru.
menikah denganmu, lalu mencintaimu adalah tawaran takdir yang tak mau kuhindari
Teri, Bukan Teriyaki Apalagi Teriakin
di Indonesia paling murah beli teri di pasar tradisional. di sini meskipun di pasar tradisional, kita tidak bisa menjumpai teri yang ditumpuk tinggi menyerupai gunung diatas tampah. semua dikemas rapi, seperti teri yang dijual di supermarket indonesia.
hari ketiga saya di sini belum pernah sekalipun kami makan makanan ala bule. mulai dari lodeh kangkung, nasi goreng teri sampe indomie goreng, membuat kami terasa hidup sangat mewah. sesuatu yang di indonesia terkesan biasa saja, bukan??
yah, tentunya pepatah langit di junjung bumi dipijak tidak hanya berlaku untuk masalah adab dan adat, tapi menurut saya juga berlaku untuk masalah makanan. di negri ini, makan roti, sanwich atau burger itu sederhana tapi di indonesia sebaliknya. jadi kalau saya makan nasi goreng teri (pakai bumbu terasi), bukankah itu sangat mewah untuk ukuran hidup di sini??? Read More..
Monday, 3 March 2008
Painem di Adelaide
saya yang tidak mengerti, ikut tertawa (entah mentertawakan mereka yang tertawa, atau mentertawakan diri saya sendiri yang merasa asing dengan topik sederhana yang bisa membuat tertawa itu).
sepanjang jalan menuju tempat tinggal kami, saya mencoba mencari tahu daerah Painem dengan mata saya. dalam hati, saya bertanya apakah nenek moyang kita dulu pernah menjajah aborigin?hingga diabadikan sebagai nama daerah? ataukah ada tokoh berdarah jawa dengan nama Mrs Painem yang punya andil besar dalam negri ini?
mobil membawa kami melewati jalan-jalan yang namanya tidak satupun menggunakan bahasa indonesia apalagi jawa. pada beberapa meter setelah bus stop number 14, mobil berbalik arah kemudian masuk ke halaman di samping lapangan bowling. lapangan itu cukup ramai dengan para lansia yang dengan semangat berolah raga di pagi yang dingin. beberapa kali mereka tertawa, sungguh pemandangan yang jarang saya lihat di negri katulistiwa saya. di negri saya, lansia seolah kehilangan harapan hidup, paling banter ya merajut.
wah, kita kembali ke masalah Painem lagi. saya masih penasaran dengan ibu satu ini. mata saya jadikan teropong untuk mengamati sekeliling, namun saya tak juga menemukan kata Painem di depan rumah yang kami tinggali ini. namun ada satu tulisan besar di atas lapangan bowling di samping halaman rumah. bukan Painem, tapi PAYNEHAM. oalah....ini tho ibu Painem itu
Read More..
Saturday, 1 March 2008
Tips Mencuci Kaos Kaki
letaknya di kaki, tentu menimbulkan masalah sendiri, antara lain cepat kortor dan cepat robek. padahal kalau kita cermat, bisa loh kita mempunyai kaoskaki bersih dan awet.
menurut pengalaman saya begini caranya
rendam kaoskaki dalam air biasa, jangan gunakanair panas ataupun hangat. perendaman pertama ini berfungsi untuk mengangkat kotoran yang menempel pada bagian permukaan kain. kemudian untuk mengangkat kotoran yang menempel di serat kain, pindahkan kaos kaki tersebut ke dalam larutan sabun.
setelah 30 menit, kucek hati-hati kemudian bilas dengan air sampai bersih. kemudian peras sedikit saja dan di jemur. jangan memeras kaos kaki terlalu kuat, menjemur di bawah terik matahari dan juga jangan menyetrikanya karena dapat merubah bentuk kaoskaki anda.
selamat mencoba, semoga bermanfaat, amin. Read More..




